Selasa, 27 April 2010

Mengajarkan Hukum Kehidupan dari Bencana

Air mata negeri ini tampaknya masih enggan untuk berhenti, kerana bencana demi bencana tetap menjadi pemandangan umum di depan mata kita. Rentetan peristiwa sedih yang mendera bangsa ini seolah-olah ingin membenarkan pepatah sejumlah kalangan bahwa Indonesia adalah negeri sejuta bencana.


Sejak memasuki tahun 2007, de facto telah terjadi sejumlah kejadian memilukan. Sebut saja di antaranya tenggelamnya Kapal Motor Senopati Nusantara, terbakar dan tenggelamnya kapal Levina I, tanah runtuh di Manggarai, gempa bumi yang menimpa sejumlah daerah di Sumatera Barat, serta terbakar-nya pesawat Garuda Indonesia di Yogyakarta, Rabu 7 Mac 2007.

Semua kejadian itu telah menelan ratusan korban jiwa. Hamparan mayat manusia lewat tayangan televisyen atau lembaran depan media cetak seolah-olah menunjukkan betapa kurang berharganya nyawa manusia itu. Soalan kita tentunya, bagaimana kita menyikapi sejumlah bencana yang menimpa bangsa ini? Tidak boleh dimungkiri, semua tragedi itu membuat kita semakin pilu dan semakin menambah deretan senarai orang yang menderita penyakit psikis seperti stres dan depresi, kerana kehilangan harta benda, lebih-lebih kerana kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Mesej Moral
Tetapi, sebagai bangsa yang beriman dan berpengharapan, dari aneka bencana itu kita dapat memetik sejumlah pelajaran moral berharga. Penulis sendiri melihat sekurang-kurangnya tiga perkara penting yang boleh kita petik sebagai mesej moral dari aneka bencana belakangan ini.

Pelajaran pertama, kita semakin disadarkan bahwa keserakahan telah menyengsarakan kehidupan kita sendiri. Sebahagian besar bencana alam seperti banjir dan tanah runtuh serta kemalangan alat-alat pengangkutan tidak terlepas dari akibat dari ulah manusia. Berkaitan dengan bencana alam kita tidak lagi menunjukkan sikap bahawa alam adalah sebahagian dari kehidupan kita. Alam justeru kita perlakukan hanya sebagai objek kepentingan ekonomi belaka. Kerana kita merasa penguasa atas alam, maka kita sewenang-wenangnya terhadapnya. Ekosistemnya kita hancurkan.

Alam sebagaimana dipotret oleh Ann Neiss bukanlah benda mati tanpa undang-undang. Alam justeru sebahagian daripada kehidupan yang mempunyai hukumnya sendiri. Ia bahkan dilihat sebagai pusat segala makhluk (biocentre).

Oleh itu manusia menurut Neiss justru dituntut untuk mengikuti hukum alam manakala dia mahu hidup dengan nyaman dan tenteram. Sebaliknya manakala manusia menghancurkan alam dan menentang hukum-hukumnya, ia akan sengsara dan menderita. Dan tampaknya kita memilih pilihan kedua sebagai buah dari keserakahan itu. Demikian halnya terhadap sarana pengangkutan. Keserakahan telah menghilangkan Peraturan kepatutan serta pengawasan ketat dan berterusan atas kualiti.

Melihat kesan negatif yang luar biasa itu perlu kesedaran semua pihak, khususnya para perosak alam dan para pemilik sarana pengangkutan serta aparat kerajaan, agar mau menghentikan sikap serakahnya dengan menunjukkan kepedulian pada ekosistem alam serta hukum-hukumnya.

Pelajaran kedua, sejumlah bencana telah mengajarkan kepada kita betapa penting menempatkan keselamatan manusia dalam penggunaan teknologi. Dan pengunggulan humanitas itu hanya terjadi kalau tanggung jawab moral menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari pemanfaatan teknologi.

Ambivalensi
Tidak boleh dimungkiri, teknologi telah membawa sejumlah perubahan yang sangat drastik dalam segala aspek kehidupan. Bahkan boleh dikatakan teknologi dewasa ini seolah-olah menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari kewujudan manusia moden (co-existence). Namun, amat perlu disedari oleh kita bersama apa yang sudah pernah diingatkan oleh Jacques Ellul tentang ambivalensi teknologi itu sendiri. Teknologi tidak saja berdimensi konstruktif dalam erti mengembangkan kehidupan manusia di pelbagai aspek, tetapi juga berdimensi memusnah.

Artinya, teknologi justru bisa menjadi senjata yang sangat ampuh untuk menghancurkan nyawa manusia dalam hitungan waktu yang sangat singkat, kalau manusia lalai terhadapnya. Ellul sendiri sudah menyatakan bahawa bagaimanapun teknologi merupakan instrumen yang bersifat artisfisial dalam erti buatan manusia, bukan alat yang bersifat abadi. Sebagai alat artifisial teknologi memiliki kemampuan yang terhad.

Maksimalisasi kemampuan yang terhad demi kemajuan manusia hanya bisa terwujud apabila manusia memberikan perhatian atasnya melalui rawatan yang berterusan. Dengan kata lain, agar teknologi boleh semakin membuat kehidupan manusia lebih baik, diperlukan kepedulian terhadapnya.
Hans Jonas (1977) bahkan lebih jauh menyambung kepedulian pada high teknologi dengan tanggung jawab moral. Menurutnya kepedulian itu merupakan salah satu daripada kewujudan tanggung jawab moral terhadap keselamatan manusia. Karena teknologi tidak boleh merawat dirinya sendiri, maka manusialah yang harus melakukannya. Dan rawatan maksimum itu sesungguhnya merupakan wujud nyata dari kepedulian pada keselamatan manusia itu sendiri.

Tampaknya idea tanggung jawab moral dalam teknologi seperti digagaskan Hans Jonas di atas masih jauh dari perhatian kita, khususnya pihak-pihak yang berkaitan. Akibatnya, bencana demi bencana khususnya lewat alat-alat pengangkutan terus berlaku. Sedar atau tidak kita telah menempatkan teknologi pengangkutan sebagai alat pembunuh sesama bangsa kita, kerana sikap apatis pada perawatannya.

Menurut hemat penulis, kejadian yang menimpa bangsa kebelakangan ini, khususnya kemalangan dalam bidang pengangkutan seharusnya menyedarkan kita akan pentingnya mengembangkan etika kepedulian, meminjam Carol Gilligan (1985), sebagai tanda hidupnya tanggung jawab moral dalam teknologi.

Maksimalisasi etika kepedulian itu justru menjadi tanda besarnya kepedulian kita pada humanisme dalam teknologi itu sendiri. Pelajaran ketiga adalah kesedaran bahawa kita bukanlah penguasa mutlak atas alam semesta melalui teknologi yang kita ciptakan. Manusia (baca: kita) tetaplah sebahagian daripada makrokosmos. Sebagai sebahagian daripada makrokosmos manusia harus tetap mengakui bahawa masih ada Penguasa di luar dirinya.
Oleh itu mesej Erik Fromm (1978) yang berintikan agar manusia moden jangan meletakkan diri sebagai Tuhan tetap relevan ditempatkan sebagai bahan refleksi modernitas. Dengan kata lain, memupuk semangat keagamaan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia moden. Terutama berhadapan dengan bencana, semangat iman ini menjadi tumpuan dan sandaran untuk ketenangan jiwa di era moden ini.

Semangat keagamaan yang besar ini pulalah yang mampu mendorong kita keluar dari keterpurukan dalam aneka aspek kehidupan berbangsa dan bernegara

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Anda Boleh Komen Disini